Saling Menyayangi Bukan Berarti Harus Bersama Saat Ini

Kita akan sadar bahwa tidak semua hal sesuai dengan apa yang kita inginkan. Begitu pula dengan perasaan, memaksa kehendak perasaan kita hanya akan menguntungkan kita tetapi sangat merugikan orang yang perasaannya kita paksa. Mario Teguh pernah berkata, bahwa jika mencintai harus bersama, jika tidak maka cinta itu lemah. Benarkah? Hidup tidak semudah itu pak. Sahabat Sekalian inilah alasan kenapa bersama dia saat ini adalah pilihan yang salah.

1. Tahanlah dirimu untuk bersamanya saat ini, biarkan dia untuk bebas meluangkan waktunya tanpamu



Cinta yang kuat adalah ketika kita menahan diri untuk tidak bersamanya, jauh darinya, dan memberikan me time untuknya agar mampu mengembangkan bakatnya. Tapi bukankah tidak mengganggu kegiatan dia saat kita bersama? Yah, kasat mata tetapi seiring berjalannya waktu itu akan membuat kenyamanan kalian berkurang, karena setiap kita harus memiliki waktu untuk sendiri.

Bersamanya saat ini mungkin pilihan yang salah, dia masih ingin mengenal dekat banyak orang dan juga menyeleksi siapa orang lebih cocok untuknya. Loh? Tentu jika bersama mu, dia akan merasa malu atau tidak tega jika kamu tahu dia dekat dengan salah seorang yang menurut mu itu akan mengganggu hubunganmu dengan dia. Dan lihat kenyataan, kalian belum ditakdirkan untuk bersama memelihara bahtera rumah tangga. Menyayanginya dari jauh saat ini adalah hal yang benar untuk mengharap kebaikan untuknya. BUKAN MEMAKSA PERASAANNYA.

2. Kamu tidak akan kehilangan dia, sebelum janur kuning melengkung, kalian masih ada kesempatan bersanding di pelaminan




“Aku menyayanginya, aku tidak mau kehilangan dia” mungkin kita akan berfikiran seperti itu. Bisa di maklumi ketika menyayangi pasti ingin bersama dan tidak mau kehilangan dia. Tapi berapa kuat kadar sayang mu. Apakah sayang itu harus dibuktikan dengan sebuah kalimat “aku tidak akan meninggalkan mu”? Egois jika kita harus memaksa dia mengatakan hal itu. Sebelum kamu benar – benar siap untuk berjuang menjaga keutuhan rumah tangga, rasa sayang mu saat ini hanya sebatas memberikan perhatian yang lebih. Tentu saat kita disayangi oleh orang yang kita sayang, pasti sangat membekas di hati. Saya setuju dengan itu. Tapi untuk bersamanya saat ini, adalah seperti kamu mengaktifkan bom waktu dalam hatimu. Sampai saat itu tiba kamu akan merasakan sakit jika Dia Yang Maha Membolak Balikan Hati ikut nimbrung dalam kisahmu. Siap menerima? Ketika kamu menyatakan perasaan sayang, saat itu juga kamu harus menerima jika hatimu tersakiti. Dia bisa merubah hati hamba-Nya, kenapa masih takut dia jadi milik orang lain selama kamu berdoa dan berubah lebih baik.

3. Jadilah 1000% lebih baik dan kalahkan 1001 fansnya, kamu adalah orang terpilih



Menangis karena tidak bersama orang yang kita sayangi itu hal yang pasti. Tetapi masih mengharapkan untuk bersama itu sebuah keegoisan. Dia tidak akan merasakan kesepian tanpa mu, entah dia memiliki 1001 fans atau dia dapat mengontrol perasaannya, kita tidak tahu. “Lalu apa yang harus aku lakukan?” Berdoalah. Tidak ada penyesalan setelah berdoa. Doakan dia menjadi pribadi yang lebih baik. Doakan dia menjadi seorang yang akan mendampingi mu kelak di hadapan penghulu. Berdoalah saat kalian bertemu, hatinya mampu menerimamu untuk yang kedua kalinya.

Kamu adalah orang yang terpilih diantara para fansnya. Jika mereka sibuk mengejar – ngejar dia, sibuklah untuk memperbaiki dirimu, jika kau rasa sudah saatnya keluar dari sarang mu, segeralah keluar dan yakinlah kau akan mendapatkan yang lebih baik darinya. Karena laki – laki yang baik untuk perempuan yang baik pula, juga sebaliknya. Dan kau tahu, kau adalah orang yang paling keren yang pernah dia temui, disaat para fans terus mengejar, kau menyibukan diri untuk hal yang lebih bermanfaat. Bukankah keren ha? Saat kalian bertemu, kau pun akan lebih percaya diri, dan dengan sekali pukul kau bisa menyingkirkan para fans kurang kerjaan itu (asal jangan botak kayak saitama sensei). LOL


4. Jangan terburu – buru mencari pengganti jika kau tidak mau disebut pemain hati profesional




“Bagaimana aku bisa move on darinya?” jika kau masih sangat menyayanginya jangan gegabah untuk mencari penggantinya, karna hal itu hanya akan menunjukan bahwa kamu tidak serius dengannya. Jaga perasaan itu sampai Dia Yang Maha Kuasa yang akan menghapusnya dari hatimu kemudian diganti yang lebih baik. Gunakan rasa sayang yang tersisa untuk mengembangkan bisnismu atau tujuanmu, agar nanti ketika kalian bertemu, kehidupanmu telah berubah dan lebih tertata. Bukankah itu lebih bijak daripada mencari penggantinya lalu dengan sombong kamu pasang dp atau status bbm dengan penggantinya. Guys, berpikirlah dewasa itu hanya akan memperlihatkan kamu seperti anak smp. Tapi sebaliknya jika dia mendapatkan penggantimu, berterima kasihlah kepada penggantimu, karena dia (penggantimu) telah menunjukan bahwa orang yang kamu sayang  adalah orang yang salah dan dia tidak pantas untukmu.

Namun jika keputusanmu telah kau pahami resikonya, kau bisa banting hati ke orang lain yang kamu anggap lebih baik dan kamu percaya bisa menyembuhkan luka di hatimu. Tapi jika tidak, bersabarlah.

5. Bersabarlah, ini tidak akan lama, kau akan merasa lebih bahagia tanpanya



“Tapi aku selalu memikirkannya.” Carilah apa yang membuatmu memikirkannya? Foto, Surat, BBM atau jarak kalian bertemu sangat keseringan. Beristirahatlah untuk tidak komunikasi dengan dia sampai suasana hatimu tenang. Kau bisa delete contact dia, hapus fotonya, sembunyikan kenangan darinya. Itu semua butuh mental sekuat Saitama-sensei. Tapi lakukan saja, lihatlah 2 – 3 minggu, apa yang terjadi denganmu. Kita tidak bermaksud sedang memutus tali persaudaraan, tetapi terkadang kita juga harus memikirkan hati kita yang jika mengingatnya sangat sakit dirasa. Carilah waktu untuk melakukan kesibukan diluar kesibukanmu sekarang. Membaca atau jogging selain bisa membuat mu tidak kegemukan juga dapat sejenak melupakan dia.

Bersamanya saat ini bukan berarti kalian bisa bahagia bahkan mungkin sakit yang kau dapat, tapi jika kalian bersama di waktu yang tepat, kebahagiaan kalian sudah dituliskan di 2 buku sakral yang paling mahal dan warnanya dari dulu cuma biru donker dan merah maroon saja (buku nikah). Saat ini menyayangi tidak harus bersama, tapi bersamalah untuk saling menyayangi di waktu yang tepat yaitu pernikahan.


sumber: hipwee

Related Posts:

Walau Dulu Rasa Cinta Pernah Ada, Kini Aku Telah Merelakanmu Bersama yang Lainnya

Untukmu, punggung yang selalu kunikmati dari kejauhan.

Dulu sekali, rasa cinta memang sangat akrab dan sering bergelayut manja di rongga hatiku. Selalu berhasil membuatku meremang ketika sosokmu tak sengaja tertangkap oleh mata. Ya, hanya mataku memang yang bisa menikmatimu. Sementara tangan dan bibirku harus rela meredam keinginannya untuk mengecup serta mendekap. Namun tak mengapa, toh aku masih bisa menikmati punggungmu dari kejauhan.

Asal kamu tahu, mendoakanmu diam-diam juga selalu menjadi ritual wajibku tiap petang. Walau kemudian kini telah ada sosok manusia lain di sisimu yang juga turut serta aku doakan.




Kabar bahwa kamu tidak lagi sendiri sampai di telingaku. Jujur, aku sempat menerka-nerka bagaimana sempurnanya dia yang ada di sisimu.

Lama memang aku tak bersua dengan dirimu. Selepas kita tak menuntut ilmu di gedung yang sama, aku pun sempat kehilangan rekam jejakmu. Aku menyukaimu memang, tapi tak menjadikanku sosok yang gemar menguntit karena ingin tahu keseharian dirimu. Sesekali, harus kuakui, aku sengaja menyasarkan diri ke beberapa akun media sosial milikmu. Sekedar mengintip apa kegiatan atau curahan hati yang kamu tuliskan di sana. Ah, dan tentu saja sekaligus mengobati rindu yang entah sudah sedalam apa guratannya.

Walau jarang melihatmu namun aku tetap mengencangkan sinyal di kepalaku supaya bisa menangkap berita apapun seputar dirimu. Pada akhirnya, kabar yang enggan kudengar sampai juga. Kata suara-suara yang dihembuskan oleh angin dan hinggap di telingaku, dirimu tak lagi sendiri karena telah ada sosok yang mendampingi. Ada tangan manusia lain yang mengisi kekosongan di antara jemarimu.

Banyak tanya sering beterbangan di dalam rongga dadaku,
“Bahagiakah dirimu bersama dengannya? Sempurnakah sosoknya yang kini mengisi hari-harimu?”

Pertemuan kembali denganmu memang tak pernah kuduga, perjumpaan yang membuatku kembali dilumat kenangan lama.




Entah mimpi apa aku semalam, bertemu denganmu merupakan hal terindah yang kubayangkan saja aku tak punya cukup nyali. Kamu masih nampak seperti dulu, rupawan tanpa perlu banyak hiasan. Kamu melihatku yang sedang duduk diam di pojokan, aku yang tentu saja sedang terpana melihat keajaiban Tuhan. Kamu melambaikan tangan dan mempersembahkan senyum untukku. Selanjutnya kamu pun melangkahkan kaki ke arahku, membuka obrolan ringan mengenai kabar, pekerjaan, dan entah apa. Aku tak ingat benar, aku hanya mampu menjawab ‘ya’ dan ‘tidak’ selebihnya perhatianku tersedot habis pada sosokmu, pada senyummu.

Pertemuan singkat di kedai kopi senja hari itu kembali lagi membuka kenangan yang sudah kusimpan rapat. Walau kita tak terlalu akrab, kamu mengetahui sosokku dengan baik, walau tentu saja tak sebaik aku mengenalmu. Aku selalu hapal senyuman manis yang tersungging di bibirmu. Hapal pula pada setiap hal yang kamu suka dan kamu benci. Tahu benar segala bahasa tubuhmu.

Kita memang saling mengenal, tentu saja, namun hubungan yang terjalin di antara kita tak terlalu lekat. Ya, bagaimana bisa aku mengakrabkan diri padamu jika melihatmu dalam jarak dekat saja jantungku sudah meronta ingin keluar dari tempatnya? Kaki ini pun tak bisa diajak berkompromi karena mendadak lemas dan tak mampu menopang bobot tubuhku. Aku pun tak bisa berhenti melakukan kebodohan karena dilanda kecanggungan. Mungkin itulah alasannya mengapa aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan dan kita hanyalah sebatas teman.


Tak pernah aku menyalahkan maupun mengutuki keadaan. Aku percaya kita tak bisa bersama karena suatu alasan.




Aku paham benar kamu dan aku memang diciptakan untuk tak menjadi satu. Oleh karena itulah, aku pun tak pernah menyalahkan Tuhan maupun keadaan. Aku percaya selalu ada beribu alasan baik di baliknya. Menikmatimu dari kejauhan saja sudah membuatku mengucap syukur dalam-dalam. Tentu aku tak akan menjadi hamba yang tak baik pada Tuhan dengan memaksa memintamu untuk menjadi milikku.

Kata sinetron layar kaca dan buku roman yang pernah kubaca, jika memang kamu mencintai orang itu benar-benar maka kamu harus merelakannya. Membiarkannya berbahagia dengan orang pilihannya. Ah, sebut saja aku tolol dan melankolis, tapi memang sepertinya itulah yang akan kulakukan. Menjagamu dari jauh, mengirimkanmu doa yang tak putus.


Hingga kini kamu memang tak pernah berhasil kumiliki. Namun lewat cara itu aku jadi belajar bagaimana cara melapangkan hati.




Hingga detik ini ada dan tulisan ini selesai kubuat, kamu memang tak pernah menjadi milikku. Kita hanya sebatas teman, itupun tak begitu lekat. Namun justru dengan itulah aku bisa memetik dan mengunyah ilmu baru. Aku belajar bagaimana cara melapangkan hati. Bagaimana mengikhlaskan orang yang dikasihi pergi. Sungguh, walau dulu aku pernah begitu memujamu, namun kini telah kurelakan dirimu bersanding dengan yang lainnya.
“Akan selalu ada setangkup doa untukmu di tiap senja. Dimanapun dirimu berada, semoga kamu tidak lupa untuk bahagia.”

sumber: hipwee

Related Posts: